Teknologi dalam penerapannya sebagai jalur utama yang dapat
menyongsong masa depan cerah, kepercayaannya sudah mendalam. Ini merupakan sikap
yang wajar asalkan tetap dalam konteks penglihatan yang rasional. Sebab
teknologi selain mempermudah kehidupan manusia, mempunyai dampak sosial yang
sering lebih penting artinya daripada kehebatan teknologi itu
sendiri.
Menurut Schumacher, dalam Kecil itu Indah, dunia modern yang
dibentuk oleh teknologi menghadapai tiga krisis sekaligus yaitu:
1.
Sifat kemanusiaan berontah terhadap pola-pola politik, organisasi dan
teknologi
yang tidak berperikemanusiaan, yang terasa menyesakkan nafas
dan melemahkan badan.
2. Lingkungan hidup menderita dan menunjukkan
tanda-tanda setengah binasa.
3. Penggunaan sumber daya yang tidak
dapat dipulihkan sehingga akan terjadi kekurangan sumber daya alam tersebut
seperti bahan bakar fosil.
Teknologi
Dalam konsep pragmatis
dengan kemungkina berlaku secara akademis dapatlah dikatakan bahwa ilmu
pengetahuan (body of knowledge) dan teknologi sebagai suatu seni (state of art)
yang mengandung pengertian berhubungan dengan proses produksi; menyangkut cara
bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja dan ketrampilan
dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. “secara konvensional mencakup
penguasaan dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi
sosial, terutama teknologi sosial pembangunan (the social technology of
development) sehingga teknologi itu adalah metodi sistematis untuk mencapai
setiap tujuan insani.” (Eugene Staley, 1970).
Teknologi memperlihatkan
fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi
mengeubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis. Jacques Ellul
dalam tulisannya berjudu “The Technological Society” (1964) tidak mengatakan
teknologi tetapi teknik. Meskipun untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk
memperoleh hasilnya, melainkan totalitas metode yang dicapai secara rasional
dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap
bidang aktivitas manusia. Batasan ini bukan bentuk teoritis, melainkan
perolehan dari aktivitas masing2 dan observasi fakta dari apa yang disebut
manusia modern dengan perlengkapan tekniknya. Jadi teknik menurut Ellul adalah
berbagai usaha, metode dan cara untuk memperoleh hasil yang sudah distandarisasi
dan diperhitungkan sebelumnya.
Fenomena teknik pada masyarakat kini,
menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Rasionalitas, artinya tindakan spontak oleh teknik diubah menjadi tindakan yang
direncanakan dengan perhitungan rasional.
2. Artifisialitas, artinya
selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah.
3. Otomatisme, artinya
dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan serba otomatis. Demikian
pula dengan teknik mampu mengelimkinasikan kegiatan non-teknis menjadi kegiatan
teknis.
4. Teknis berkembang pada suatu kebudayaan.
5. Monisme,
artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling
bergantung.
6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas
kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebuadayaan.
7. Otonomi,
artinya teknik berkembang menurut prinsip sendiri.
Teknologi tepat guna
sering tidak berdaya menghadapi teknologi Barat, yang sering masuk dengan
ditunggangi oleh segelintir orang atau kelompok yang bermodal besar. Ciri-ciri
teknologi Barat tersebut adalah:
1. Serba intensif dalam segala hal,
seperti modal, organisasi, tenaga kerja dll. Sehingga lebih akrab dengan kaum
elit daripada dengan buruh itu sendiri.
2. Dalam struktur sosial,
teknologi barat bersifat melestarikan sifat kebergantungan.
3. Kosmologi
atau pandangan teknologi Barat adlaah menganggap dirinya sebagai pusat yang lain
feriferi, waktu berkaitan dengan kemanjuan secara linier, memahami realitas
secara terpisah dan berpandangan manusia sebagai tuan atau mengambil jarak
dengan alam.
Kemiskinan
Kemiskina lazimnya dilukiskan sebagai
kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada
dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh (Emil Salim,
1982).
Menurut Prof. Sayogya (1969), garis kemiskinan dinyatakan dalam
rp/tahun, ekuivalen dengan nilai tukar beras (kg/orang/tahun yaitu untuk desa
320 kg/orang/tahun dan 480 kg/orang/tahun). Atas dasar ukuran ini
maka mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal,
ketrampilan, dsb;
b. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset
produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau
modal usah;
c. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat
sekolah dasar karena harus membantu orang tua mencari tambahan
penghasilan;
d. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas (self
employed), berusaha apa saja;
e. Banyak yang hidup di kota berusia
muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.
Menurut teori Fungsionalis dari
Statifikasi (tokohnya Davis), kemiskinan memiliki sejumlah fungsi
yaitu:
1. Fungsi Ekonomi
Penyediaan tenaga untuk pekerjaan
tertentu menimbulkan dana sosial, membuka lapangan kerja baru dan memanfaatkan
barang bekas (masyarakat pemulung).
2. Fungsi
Sosial
Meninmbulkan altruisme (kebaikan spontan) dan perasaan, sumber
imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi kelas lain
dan merangsang munculnya badan amal.
3. Fungsi
Kultural
Sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi
sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi antar sesama
manusia.
4. Fungsi Politik
Berfungsi sebagai kelompok gelisan
atau masyarakat marginal untuk musuh bersaing bagi kelompok
lain.
Walaupun kemiskinan mempunyai fungsi, bukan berarti menyetujui
lembaga tersebut. Tetapi karena kemiskinan berfungsi maka harus dicarikan fungsi
lain sebagai pengganti.